Pengertian Budaya Organisasi
Budaya
organisasi dapat didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai (values),
keyakinan-keyakinan (beliefs), asumsi-asumsi (assumptions), atau
norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan diikuti oleh para anggota
suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah
organisasinya.
Budaya
organisasi juga disebut sebagai budaya perusahaan, yaitu seperangkat
nilai-nilai atau norma-norma yang telah relatif lama berlakunya, dianut bersama
oleh para anggota organisasi (karyawan) sebagai norma perilaku dalam
menyelesaikan masalah-masalah organisasi (perusahaan). Dalam budaya organisasi
terjadi sosialisasi nilai-nilai dan menginternalisasi dalam diri para anggota, menjiwai
orang per orang di dalam organisasi. Dengan demikian, maka budaya organisasi
merupakan jiwa organisasi dan jiwa para anggota organisasi. (Kilmann
dkk.,1988).
Berikut ini adalah
pengertian budaya organisasi menurut beberapa ahli :
a. Peter
dan Waterman (1982)
Bahwa
dalam pengertian organisasi, budaya atau shared
values adalah cerita-cerita, mitos, legenda yang muncul menjadi sangat
penting dalam kehidupan suatu organisasi. Tanpa pengecualian, dominasi dan
koherensi budaya telah membuktikan sebagai kualitas pokok tersendiri.
b. Schein
(1985)
Budaya
organisasi sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan,
diciptakan, atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dengan maksud agar
organisasi belajar mengatasi atau menanggulangi masalah-masalahnya yang timbul
akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah berjalan dengan
cukup baik, sehingga perlu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara
yang benar untuk memahami dan merasakan berkenaan dengan masalah-masalah tersebut.
c. Sarplin
(1995)
Budaya
organisasi merupakan suatu sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu
organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur sistem formalnya untuk
menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
d. Stoner
(1995)
Budaya
organisasi sebagai suatu cognitive
framework yang meliputi sikap, nilai-nilai, norma perilaku dan
harapan-harapan yang disumbangkan oleh anggota organisasi.
e. Luthans
(1998)
Budaya
organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku
anggota organisasi. Setiap anggota akan berperilaku sesuai dengan budaya yang
berlaku agar diterima oleh lingkungannya.
f. Robbins
(2001)
Budaya
organisasi sebagai nilai-nilai dominan yang disebarluaskan dalam organisasi
yang dijadikan filosofi kerja karyawan yang menjadi panduan bagi kebijakan
organisasi dalam mengelola karyawan dan konsumen.
g. Wood,
Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001)
Budaya
organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nila yang dikembangkan oleh
organisasi di mana hal itu menuntun perilaku dari anggita organisasi itu
sendiri.
Peranan Budaya Organisasi
Peranan budaya organisasi menurut pandangan
Greenberg dan Baron (2003) yang dikutip oleh Wibowo (2010) adalah :
1. Budaya
Memberikan Rasa Identitas
Semakin jelas persepsi dan
nilai-nilai bersama organisasi didefinisikan, semakin kuat orang dapat
disatukan dengan misi organisasi dan merasa menjadi bagian penting darinya.
2. Budaya
Membangkitkan Komitmen Pada Misi Organisasi
Kadang-kadang
sulit bagi orang untuk beroikir di luar kepentingannya sendiri, seberapa besar
akan mengetahui dirinya. Tetapi apabila terdapat strong culture, orang merasa
bahwa mereka, menjadi bagian dari yang besar dalam organisasi tersebut, dan
terlibat dalam keseluruhan kerja organisasi.
3. Budaya
Memperjelas Dan Memperkuat Standar Perilaku
Budaya membimbing kata dan perbuatan
pekerjaan, membuat jelas apa yang harus dlakukan dan kata-kata dalam situasi
tertentu, terutama
4. Berguna bagi pendatang baru.
Budaya mengusahakan stabilitas bagi
perilaku, keduanya dengan harapan apa yang harus dilakukan individu yang
berbeda di saat yang sama.
Karakteristik
Budaya Organisasi
Budaya perusahaan
merupakan sesuatu hal yang sangat kompleks. Untuk itu budaya perusahaan harus
memiliki beberapa karakteristik sebagai wujud nyata keberadaannya.
Masing-masing karakteristik tersebut pada penerapannya akan mendukung
pencapaian sasaran perusahaan.
Ada beberapa karakteristik budaya
organisasi yang perlu mendapatkan perhatian dari perusahaan menurut Robbins
(1994), antara lain:
a. Kepemimpinan
Pengertian
kepemimpinan yaitu sebagai proses mempengaruhi segala aktivitas ke arah
pencapaian suatu tujuan organisasi. Kepemimpinan seorang pemimpin diharapkan
dapat menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu perubahan pada budaya
kerja sebuah organisasional. Perubahan budaya kerja yang slow down diharapkan dapat diubah dengan budaya produktif karena
pengaruh kepemimpinan atasan yang lebih mengutamakan pada otonomi atau
kemandirian para anggota. Diharapkan pula adanya otonomi tersebut dapat
menjadikan para anggotanya menjadi lebih inovatif dan kreatif, dalam
pengambilan keputusan dan kerja sama. Kepemimpinan memegang peranan penting
dalam budaya organisasi, terutama pada organisasi yang budaya organisasinya
lemah.
b. Inovasi
Dalam mengerjakan
tugas-tugas, organisasi lebih berorientasi pada pola pendekatan “pakai tradisi
yang ada” dan memakai metode-metode yang teruji atau pemberian keleluasaan
kepada anggotanya untuk menerapkan cara-cara baru melalui eksperimen.
c. Inisiatif
Individu
Inisiatif individu
meliputi tanggung jawab, kebebasan, dan independensi dari masing-masing anggota
organisasi, yaitu kewenangan dalam menjalankan tugas dan seberapa besar
kebebasan dalam mengambil keputusan.
d. Toleransi
Terhadap Resiko
Dalam budaya
organisasi manusia didorong untuk lebih agresif, inovatif, dan mampu dalam
menghadapi resiko di dalam pekerjaannya.
e. Pengarahan
Yaitu kejelasan
organisasi dalam menentukan sasaran dan harapan terhadap sumber daya manusia
atas hasil kerjanya. Harapan dapat dituangkan dalam bentuk kuantitas, kualitas,
dan waktu penyelesaian.
f. Integrasi
Integrasi di sini adalah bagaimana
unit-unit di dalam organisasi didorong untuk menjalankan kegiatannya dalam satu
koordinasi yang baik, yaitu seberapa jauh keterkaitan dan kerja sama ditekankan
dan seberapa dalam rasa saling ketergantungan antar sumber daya manusia
ditanamkan.
g. Dukungan
Manajemen
Seberapa baik
manajer memberikan komunikasi yang jelas, bantuan, dan dukungan terhadap
bawahannya dalam melaksanakan tugas.
h. Pengawasan
Meliputi
peraturan-peraturan dan supervise (mengawasi) langsung yang digunakan
oleh manajemen untuk melihat secara keseluruhan perilaku anggota organisasi.
i. Identitas
Identitas adalah
pemahaman anggota organisasi yang memihak kepada organisasinya secara penuh.
Misalnya, seseorang anggota organisasi yang dibangunkan dari tidurnya dan
ditanya siapa dirinya? Maka jika dia menjawab “saya anggota organisasi A,”
berarti dia telah menjadikan organisasi tersebut sebagai bagian dari identitas
dirinya.
j. Sistem
Penghargaan
Sistem
pekerjaan berbicara tentang alokasi balas jasa (biasanya dikaitkan dengan
kenaikkan gaji dan promosi) sesuai kinerja karyawan.
k. Toleransi
Terhadap Konflik
Adanya
usaha mendorong karyawan untuk kritis terhadap konflik yang terjadi. Jika
toleransinya tinggi, maka perdebatan dalam pertemuan adalah wajar. Tetapi jika
perusahaan toleransinya rendah, maka karyawan akan menghindari perdebatan dan
akan menggerutu dibelakang.
l. Pola
Komunikasi
Maksud
dari pola komunikasi di sini adalah komunikasi yang terbatas pada hirarki
formal dari setiap organisasi. Kedua belas karakteristik di atas dapat menjadi
ukuran bagi setiap perusahaan untuk mencapai sasarannya dan menjadi ukuran bagi
karyawan dalam menilai perusahaan tempat mereka bekerja, misalnya, dukungan
manajemen merupakan ukuran penilaian terhadap perilaku kepemimpinan dari setiap
manajer.
Sepuluh karakteristik yang
menggambarkan esensi budaya organisasi, menurut Dharma, 2004:
a.
Identitas anggota, derajat dimana pekerjaan lebih
mengidentifikasi organisasi secara menyeluruh daripada dengan tipe pekerjaan
atau bidang keahlian profesionalnya.
b.
Penekanaan kelompok, derajat dimana aktivitas tugas lebih
diorganisir untuk seluruh kelompok dari pada individu.
c.
Fokus orang, derajat dimana keputusan manajemen
memperhatikan dampak luaran yang dihasilkan oleh karyawan dalam organisasi.
d.
Penyatuan unit, derajat dimana unit-unit dalam organisasi
didorong agar berfungsi dengan cara yang terkoordinasi atau bebas.
e.
Pengendalian, derajat dimana peraturan, regulasi, dan
pengendalian langsung digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan karyawan.
f.
Toleransi resiko, derajat dimana pekerja didorong untuk
agresif, kreatif, inovatif, dan mau mengambil resiko.
g.
Kriteria ganjaran, derajat dimana ganjaran seperti
peningkatan pembayaran dan promosi lebih dialokasikan menurut kinerja karyawan
dari pada senioritas, favoritisme atau faktor non-kinerja lainnya.
h.
Toleransi konflik, derajat dimana pekerja didorong dan
diarahkan untuk menunjukkan konflik dan kritik secara terbuka.
i.
Orientasi sarana tujuan, derajat dimana manajemen lebih
terfokus pada hasil atau luaran dari pada teknik dan proses yang digunakan
untuk mencapai luaran tersebut.
j.
Fokus pada sistem terbuka, derajat dimana organisasi
memonitor dan merespons perubahan dalam lingkungan eksternal.
Gambaran karateristik tersebut akan
memberikan gambaran mengenai budaya yang dianut. Gambaran ini menjadi landasan
untuk menyamakan pemahaman bahwa anggota organisasi merasa memiliki
organisasinya dan mendorong anggota organisasi agar berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai dan norma yang dianut organisasi.
Type
Budaya Organisasi
Setidaknya ada 8 tipe budaya
organisasi seperti yang dijabarkan oleh Bisen dan Priya (2010).
1. Strong Culture
dan Weak Culture
Budaya yang kuat
akan mewarnai perilaku anggota organisasi sehingga budaya tersebut mampu
menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku. Kuatnya budaya organisasi
biasanya ditopang oleh nilai-nilai kebaikan yang telah terinternalisasi pada
anggota sebagai nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Sedangkan weak culture
(budaya yang lemah) tak akan mampu
menggerakkan anggota untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan visi
organisasi sehingga diperlukan prosedur dan aturan yang jelas untuk memaksa
anggota agar mempunyai sikap dan perilaku positif.
2. Leader-Centered
Culture dan Participate Culture
Keberadaan budaya
organisasi terkadang tak akan tampak ketika tidak adanya aktor berpengaruh yang
menerapkannya. Budaya menjadi lemah meskipun di dalamnya terdapat nilai-nilai
dan norma kebaikan. Pada kondisi seperti itu kehadiran pemimpin yang kuat
sangat dibutuhkan untuk menyebarkan budaya dalam organisasi. Tipe budaya
seperti itu terjadi karena partisipasi anggota tak tampak atau sangat minim.
Anggota bersifat pasif bahkan menerapkan standar perilaku yang berbeda dengan
budaya yang ada. Sebaliknya, pada participate Culture, budaya sangat tampak
pada perilaku anggota. Kesadaran untuk menerapakan nilai-nilai yang telah
disepakati mampu mendorong mereka untuk
bertindak selaras dengan budaya organisasi. Mereka bersifat profesional
dan self directed sehingga mereka tidak membutuhkan keberadaan pemimpin yang
kuat.
3.Dominant Culture
dan Subculture
Budaya yang
dominan terjadi ketika nilai-nilai utama sudah tersebar pada sebagian besar
anggota organisasi dan menjadi sumber rujukan dalam bersikap dan berperilaku.
Hanya sebagian kecil anggota yang kurang bisa menerapkan budaya tersebut.
Sedangkan subculture terjadi ketika hanya sebagian kecil anggota yang
menerapkan budaya yang ada, misalnya hanya satu bagian atau divisi yang ada
dalam organisasi.
4.Mechanistic
Culture dan Organic Culture
Budaya mekanis
sangat tampak pada organisasi militer. Tingkatan kekuasaan dan garis komando
begitu jelas. Anggota dengan pangkat dan kekuasaan lebih rendah diharuskan
mematuhi pangkat lebih tinggi. Budaya tersebut juga berlaku pada jaman
feodal di mana perintah dan komando
begitu jelas tanpa kompromi. Kondisi yang berlawanan adalah Organic culture.
Organisasi yang menerapkan budaya organik lebih menekankan pada keberhasilan
tugas sehingga peraturan dan hirarkhi kekuasaan tidak begitu dipentingkan.
Mereka menggunakan saluran komunikasi yang cenderung bernuansa non formal
ketika terlibat dalam sebuah tim untuk menangani tugas tertentu. Mereka
terfokus pada tugas yang harus diselesaikan. Pembentukan tim dengan anggota
dari berbagai divisi seringkali terjadi ketika ada masalah bersama yang segera
diselesaikan.
5. The Clan
Culture
Clan culture
adalah budaya yang terbentuk dalam organisasi di mana semua anggotanya dianggap
sebagai teman dan keluarga. Perlakuan terhadap anggota organisasi seperti
perlakuannya pada teman dan keluarga sehingga terlihat seperti keluarga besar
yang hidup bersama. Tak mengherankan jika pada organisasi tersebut tercipta
loyalitas yang tinggi pada anggota.
6. The Hierarchy
Culture
Tipe budaya ini
hampir sama dengan mechanistic culture di mana terdapat hirarkhi yang jelas
pada tiap anggota. Bedanya, pada mechanistic culture, budaya yang ada lebih
dilihat dari sisi aktivitas anggotanya yang terlihat mekanis sedangkan
hierarchy culture dilihat dari sisi strukturnya yang jelas. Model organisasi
pemerintah menganut tipe hirarkhi karena terdapat tingkatan dan struktur yang
jelas.
7.The Adhocracy
Culture
Budaya adhocracy
biasanya diterapkan oleh wirausahawan yang dihadapkan pada risiko usaha. Bagi
mereka peraturan dalam organisasi tidaklah penting. Yang penting bagi mereka
bagaimana organisasi bisa tetap survive dengan mengandalkan kreativitas yang
ada pada anggota. Kemajuan organiasasi akan sangat tergantung dari bagaimana
kreativitas anggotanya dan seberapa berani mereka mengambil risiko yang
dihadapinya.
8. Market Oriented
Culture
Tipe budaya organisasi
ini selalu berorientasi pada hasil.
Semua anggota yang ada bekerja untuk orientasi yang sama. Mereka
terlihat sangat kompetitif, ingin menjadi yang terbaik dan berusaha mencapi
tujuan yang yang telah ditetapkan organisasi. Pada tipe ini anggota telah
terbiasa dengan budaya high performance work system dan
tidak begitu mentolerir keterlambatan pekerjaan. Mereka menyadari bahwa
hasil pekerjaan mereka akan menjadi produk yang akan dinilai anggota lain
sehingga kualitas kerjanya akan selalu dijaga. Di samping itu, hasil akhir dari
pekerjaannya akan menjadi produk yang digunakan pasar sehingga kesadaran pada
kualitas produk yang dihasilkan begitu tinggi.
Delapan tipe tersebut bisa menjadi
pedoman bagi anda untuk memilih budaya yang tepat untuk organisasi anda. Tidak
ada budaya yang generik yang bisa dipakai oleh semua organisasi; yang ada
adalah nilai-nilai generik yang bersumber pada kebaikan dan kebenaran.
No comments:
Post a Comment